![]() |
| https://serambimata.com/ |
Di setiap awal tahun pelajaran baru saya selalu memulai pelajaran dengan pembahasan materi yang saya namakan dengan pembahasan Pra Fisika. Pada materi Pra Fisika saya khususkan untuk mengetahui seberapa dalam pengetahuan matematika siswa baru sebagai bekal untuk mempelajari fisika pada jenjang sekolah menengah atas. Materi Pra Fisika terdiri atas pengetahuan matematika yang sering digunakan untuk menyelesaikan soal-soal fisika. Dari hasil evaluasi materi Pra Fisika bisa diperoleh gambaran kemampuan matematika siswa sehingga saya bisa memetakan siswa-siswa dengan kemampuan matematika lemah, sedang dan kuat.
Sungguh diluar dugaan saya ternyata kemampuan matematika siswa
sangat memprihatinkan. Lebih dari separuh dari siswa masih sangat kedodoran
menyelesaikan permasalahan aljabar sederhana seperti pindah ruas penjumlahan
dan pindah ruas perkalian. Kenyataan ini tentu secara refleks menyulut
pertanyaan dalam benakku bagaimana bisa siswa dengan kemampuan matematika
sangat rendah seperti itu bisa lulus ujian SMP dengan nilai matematika yang
bagus? Entahlah, yang sekarang ada dihadapanku adalah sekelompok siswa yang
harus belajar fisika dengan bekal pengetahuan matematika yang kelewat minim.
Pengetahuan aljabar dasar tentu saja menjadi suatu keniscayaan
untuk mempelajari ilmu fisika. Bagaimana bisa belajar fisika dengan baik jika
modal wajib yang mereka punyai tidak memenuhi syarat. Sehingga mau tidak mau
saya harus berprofesi ganda, yang kadang harus berperan layaknya guru
matematika dan menerangkan ulang konsep matematika yang sebetulnya telah mereka
pelajari semasa jenjang sekolah menengah pertama bahkan jenjang sekolah dasar.
Dari sudut muatan kurikulum sendiripun terjadi banyak ketidak selarasan antara
pengetahuan matematika siswa dengan muatan kurikulum fisika . Tentu saja ini
menjadi tugas ekstra bagi para guru fisika untuk mengajar modal matematikanya
dulu sebelum mengajarkan konsep fisikanya. Kita bisa mengambil contoh pada
materi persamaan gerak pada bidang datar. Materi ini mutlak memerlukan
pengetahuan matematika tentang diferensial dan integral, sedangkan materi
diferensial dan integral sama sekali belum pernah terjamah di pelajaran matematika. Pada
pelajaran matematika materi tersebut berada pada kelas yang berbeda, sehingga
mustahil bagi guru fisika untuk “menitipkan” materi terkait kepada yang lebih berhak
mengajar yaitu guru matematika.
Ilmu tentang trigonometri yang membahas sinus, cosinus, dan tangen
pun dapat dikatakan terlambat di ajarkan oleh guru matematika. Materi tersebut
sudah merupakan prasyarat wajib pada materi fisika jauh sebelum materi tersebut
diajarkan pada mata pelajaran matematika. Pengetahuan matematika tentang
trigonometri harus sudah dikuasai ketika materi fisika tentang besaran vektor
dibahas.
Ketidak sinkronan antara kurikulum matematika dan fisika di negeri
ini merupakan catatan khusus yang harus disikapi dengan bijak oleh para pelaku
kebijakan ditingkat bawah, yang tentu saja berimplikasi kepada kurang
maksimalnya pembelajaran fisika karena terkuranginya waktu untuk membahas materi pelajaran matematika.
Oleh sebab itu perlu kiranya seorang guru fisika untuk selalu berimprovisasi
dalam kegiatan pembelajaran sambil menunggu revisi kebijakan terkait.
Terinspirasi oleh pengalaman saat masih kuliah dulu, waktu itu ada
mata kuliah Fismat (Fisika Matematika), yaitu mata kuliah yang secara khusus membahas matematika yang digunakan
untuk keperluan ilmu fisika, maka ditingkat sekolah menengah atas kiranya “tak
berdosa” jika ada mata pelajaran sisipan Matematika Fisika. Mata pelajaran ini
diharapkan bisa menjembatani muatan
kurikulum matematika dan muatan kurikulum fisika yang terkadang “tak akur”.
Dari sudut lain tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada rekan-rekan saya guru matematika, mungkin dengan adanya
mata pelajaran Fisika Matematika akan semakin memperjelas “hubungan mesra”
antara mata pelajaran fisika dan mata pelajaran matematika.
Di restui atau tidak oleh
pemerintah, memang dirasa sangat perlu keberadaan mata pelajaran Matematika Fisika ini.
Realisasinya sangat bergantung kepada guru fisika dan kepala sekolah sebagai
penentu kebijakan sekolah. Menurut hemat saya ini merupakan salah satu
alternatif untuk mengatasi ketidaksinkronan antara muatan kurikulum matematika
dan muatan kurikulum fisika pada jenjang sekolah menengah atas. Ketika hidup
adalah sebuah pilihan, maka saat itu juga kita harus memilih dengan segala
resiko yang harus kita tanggung



